Rabu, 01 Juni 2011

Balada Sinta Obong

Dahana kobar mangalad-alad…Gumaluduk guntur ketuk…Lindu bumi gonjing…
Bagong: Yang artinya?
Yang artinya sukar dicetuskan ke dalam bahasa versi Soempah Pemoeda…
Gareng: Yang tafsirnya?
Yang tafsirnya gini. Dahana itu api. Ada dahana kobar menjilat-jilat sampai ke dirgantara. Wah lipat ganda geliat api itu lebih tinggi dari puncak Monas. Lebih munjung dahana itu, menjulang lebih dari pucuk Semeru di Lumajang.


Itulah pembakaran Dewi Sinta serampung balatentara Prabu Rama dari Ayodya meluluh-lantakkan pasukan Alengka se-Rahwana-Rahwana-nya, dan membebaskan Dewi Sinta setelah 12 tahun kunjul jadi tawanan si Raja Diyu.
Dalam gelora si raja merah, gaibnya, Putri Mantili itu tidak hangus-hangus. Yang legam malah hati dan perasaan kaum perempuan seluruh Ayodya sampai ke provinsi-provinsi kabupaten/kota pemekarannya. Nurani mereka kelam bahkan gosong manakala mereka terawang lidah api menggeliat-geliat dan menggelinjang di antariksa.
Emosi masyarakat berkecamuk, teraduk-aduk seperti serundeng di atas wajan panas. Ih, tega nian raja mereka membakar ibu negara. Curiga benar Prabu Rama akan kesucian keng garwo setelah 12 tahun disekap di Taman Argasoka di kerajaan raksasa Alengka Diraja.
”Terlalu sadis sang Dasarati (Prabu Rama), dasar raja tega,” kata seorang perempuan.
Yang lain, sesama perempuan, menimpal, “Iya, keterlaluan!!!”
”Huhhh…ther…lha…lhu…,” sergah perempuan lain lagi mengekor aksen idolanya, Raja Dangdut Rhoma Irama.
Nun dari jauh asap pembakaran permaisuri Ayodya mengepul juga sampai ke kompleks permukiman itu. Ibu-ibu sambil nutup hidung pada rasan-rasan mengitari gerobak sayur keliling. Semua masih dasteran dan dengan rambut awut-awutan. Bahkan, walau masih pagi mruput, sebagian keringat mereka sejagung-jagung terimbas hawa panas Sinta Obong di tempat yang jauhnya bagaikan Anyer ke Panarukan.
***
”Met, Slamet, kamu lihat api di sana itu,” kata ibu-ibu yang lain sambil angop-angop ke pemuda tukang sayur. ”Sudah tujuh hari tujuh malam lho api itu membakar sang Dewi… Aduh Gusti nyuwun ngapunten…Kenapa ya laki-laki… nggak kamu nggak suamiku … sama saja sejak zaman Pak Sakerah sampai zamannya Saipul Njawil. Amit-amit kerjanya kok curigaaaaa terus ke istrinya?”
”Hehehe…”
Slamet, seperti adatnya, menanggapi omongan seluruh Dharma Wanita kompleks perumahan itu dengan ketawa pringas-pringis saja sambil motong-motong paha ayam, dada, dan sayap-sayapnya.
”Kok dari tadi kamu cuma ketawa-ketawa saja to, Met?”
”Hehehe…”
”Dasar laki-laki …ya ndak kamu ya ndak Prabu Raghutama (Rama)…Semua laki-laki itu buaya…”
”Hehehe…”
”Lho, semprul, ngguyu maneh koen, Met…”
”Lha kalau nggak hehehe atau hahaha… saya mau bilang apa lagi, Bu Rustam? Masa’ saya bilang, kalau laki-laki buaya, maka perempuan lubang buaya…Nanti Cak Arief Santosa dan seluruh redaktur Jawa Pos bilang, ah itu dagelan sudah basi…Masa’ wayang Durangpo basi?”
”Ah, kamu, Met,” kata Bu Rustam sambil nowel Slamet.
”Ah, kamu, Bu,” balas Slamet juga sambil nowel. Lho, Bu Rustam kaget. Ibu dua anak yang wajahnya mirip artis Mieke Amalia itu terkejut. Dikejarnya dengan gemas tukang sayur yang mirip Tora Sudiro itu. Tukang-tukang ojek yang mangkal di kejauhan cuma mesam-mesem melihat dua insan itu berlarian berputar-putar. Ada yang ketawa keras. Mereka tahu bahwa Slamet memang tukang sayur favorit ibu-ibu. Bapak-bapak kompleks dalam hati agak geram pada Slamet. Cemburu. Hanya satu bapak-bapak yang tak cemburu ke Slamet, tapi ke tukang ojek…ya yang ketawanya paling keras itu.
”Mestine…mestine…,” sambung ibu-ibu sekembali Slamet dan Bu Rustam ke dekat gerobak sayur, ” Mestine yang dites itu Prabu Rama. Beliau yang dibakar. Kalau nggak kepanggang dan tetap perkasa berarti jujur. Kalau Prabu kobong jadi arang berarti selama Dewi Sinta diculik di Alengka, Prabu Rama nggatheli macem-macem sama pembantunya. Memangnya yang doyan pembantu cuma laki-laki Hongkong, Malaysia, dan Arab Saudi?”
”Hehehe…bawang putihnya sekilo apa tiga, Bu? Tahunya sekarang naik, Bu…Katanya kedelai impor dari Amerika naik.”
”Met, Bu Parjo itu serius, Koen ojok nggapleki ta lah, jangan nylimur ke bawang merah bawang putih,” si daster kelabu protes. ”Itu pengalaman pribadinya. Pak Parjo itu ditinggal Bu Parjo sebentar cari garam ke pracangan sebelah saja, eee eee eee…pulang-pulang Bu Parjo sudah lihat Pak Parjo di kamar kerokan sama bedinde-nya…”
”Hehehe…”
”Ih, lebih dari itu malah, Bu Satriyo,” tukas Bu Parjo sambil ngelus dada dan bisik-bisik ke si daster kelabu.
”Hehehe…”
”Hush…Met, Slamet, jangan nguping kita lho, awas…”
”Hehehe…”
”Sssttt…Bu, Bu Rustam, Slamet itu brondong-brondong kayak gitu juga curigaan ke istrinya…”
Bisikan Bu Satriyo segera dibantah oleh ibu yang mirip Mieke Amalia. Mereka saling mendekat dan berbisik dalam jarak yang cukup sehingga Slamet tak dapat nguping.
***
Nyatane Slamet sangat mengkeret pada istrinya dan selalu kalah. Itu yang terungkap dalam lingkaran ”pansus” bisik-bisik kaum ibu. Pernah Slamet bikin konstitusi, tiga langkah dari pagar rumah, lelaki merdeka. Ia sudah bukan milik istrinya lagi. Pariyem, istri Slamet, tidak manut malah membalas. Gak ngantek tiga langkah dari pintu pagar, tiga langkah dari pintu rumah saja, istri malah sudah bebas. Ia sudah bukan milik suaminya lagi. Slamet membalas. Tiga langkah dari pintu kamar, suami sudah bukan milik istrinya lagi. Pariyem, bakul jamu gendongan, bereaksi membikin amandemen undang-undang dasar. Tiga langkah dari ranjang, istri sudah bukan milik suaminya lagi. Slamet klenger.
”Sidang pansus” kaum ibu pagi itu menginspirasi mereka untuk bikin dukungan kepada Dewi Sinta. Sinta alias Paramasatya diminta agar tidak terlalu menurut dan tunduk pada suaminya, Prabu Janardana (Rama). ”Maaf, bakul jamu gendongan saja berani ke suami, kok ini permaisuri malah swargo nunut neroko katut pada suami, terlalu patibrata alias terlalu taat dan setia,” tulis wakil mereka, Ibu Arthalya Tantular Anggodowati, di surat pembaca koran ”Jawi Pos”.
Oooo…kukusing dupo kumelun…kelun-kelun wor mego kang membo bathoro…
Kemudian kaum ibu terbelalaklah manakala televisi menggemparkan dunia dengan berita penting. Ternyata Dewi Sinta ndak segoblok yang mereka terka. Ketika Sang Hyang Maruto (Dewa Angin) menyingkap sedikit api yang memenjarakan Dewi Sinta, tampak Dewi Sinta sik tahes-tahes saja, masih segar bugar seakan ada di ruangan yang diberi pelindung dari api. Sang Hyang Jwalana (Dewa Api) yang menguasai penjara api mengizinkan ada air conditioning di situ, lengkap dengan kulkas, alat-alat fitness, karaoke, dan ahli kosmetik. Bahkan Sang Jwalana juga menghadiahi kanaka pangkaya (teratai emas) di permukaan kolam dalam penjara api.
Petruk ngucek-ngucek mata, hampir gak percoyo laporan televisi. Gek gek tak ada kemewahan apa-apa di penjara api Dewi Sinta, tapi mata masyarakat dan mata kamera televisi dikelabuhi oleh ulah tukang sulap Uya, ilusionis Deddy Corbuzier, dan mentalis Rommy Rafael. Ternyata gak onok rekayasa sulapan opo-opo. Dewi Sinta memang betul-betul dibikinkan ruang khusus yang adem di dalam penjara api.
Uya, Deddy, dan Rommy tak akan sempat mengelabuhi mata kita dalam memandang ruangan Sinta dan ahli kosmetiknya. Konon ketiganya sedang punya kesibukan sendiri: memastikan apakah Anggodo yang ditahan KPK betul-betul Anggodo, bukan tukang sayur Mas Slamet yang disulap bersosok Anggodo oleh ilusionis lain tunggal guru untuk iseng dan menjajal ketiganya.
”Meet, kamu di manaaaa…?” Bu Parjo nglindur pas dini hari, di samping suaminya.
Bagong: Yang artinya? (*)
*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =)) Didukung oleh NewPurwacarita

Poskan Komentar

Terima kasih atas komentar anda